Ilustrasi tentang Privilege

Privilege Dan Kompas Moral

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang membuka twitter pribadi, ketika itu lewat sebuah tweet dari SMERU Institute yang membalas cuitan Jerome Pollin yang membahas tentang privilege. Berikut ini adalah tweet pada waktu itu.

Cuitan ini membuat saya berpikir tentang diskusi tentang privilege ini sepertinya membagi orang-orang di jagat media sosial pada dua kelompok berbeda, yaitu orang-orang yang merasa memiliki privilege, yang tidak ingin usaha dan kerja kerasnya diremehkan dan mereka yang merasa kalau mereka memiliki privilege yang minim (memiliki banyak kekurangan).

Privilege adalah sebuah hak istimewa yang banyak jenisnya, dari mulai harta, sosial, turunan, dan lain sebagainya.

Contohnya kira-kira seperti ini, jika kawan lahir dan besar di suatu kampung, otomatis menjadi akamsi (anak kampung sini). Jika melakukan sesuatu atau agak berisik di sana ya pasti berbeda perlakuannya dengan orang asing. Begitu juga dengan lahir di keluarga kaya, kemungkinan besar secara finansial, makanmu enak, pendidikan aman, dan punya jaringan orang yang bagus dari orang tua misalnya.

Jika seorang berasal dari keluarga yang mapan tentu dia lebih banyak memiliki privilege dibanding dengan mereka yang berasal dari keluarga tak mampu.

Hasil penelitian dari Smeru Institute yang meneliti tentang hubungan penghasilan saat dewasa dan anak-anak menemukan kalau anak yang hidup di keluarga miskin tetap memiliki pendapatan 87% lebih rendah dibanding dengan mereka yang tumbuh di keluarga mampu.

Apa artinya?

Artinya adalah ketika kawan berasal dari keluarga miskin, maka kemungkinan pendapatan kawan akan tetap lebih rendah.

Jadi cerita tentang from zero to hero, slumdog millionaire itu bohong?

Tidak begitu, hanya kemungkinannya kecil. Hanya sedikit sekali kawan miskin yang akan berhasil menjadi kaya raya.

Apa itu Privilege?

Privilege adalah sebuah istilah yang memayungi banyak hal yang bisa membuat seseorang mudah memiliki berbagai hak istimewa seperti akses ke pendidikan tinggi, jaringan perkenalan, ketenangan pikiran, dan lain sebagainya. Intinya hak yang membuat akses terhadap kesuksesan atau keinginan yang kau mau itu tersedia.

Kemiskinan tak sekedar bicara angka pendapatan, tapi juga beban stres mental yang ditanggung oleh anak-anak dari keluarga miskin itu, belum lagi bicara tempat yang terpencil seperti Pulau Kramaian di Perairan Masa Lembo atau kampung di kaki gunung yang sulit mendapatkan akses kesehatan, pendidikan, dan bahkan pangan.

Ketimpangan kaya dan miskin di Indonesia itu nyata!

Jika kawan masih tak percaya, cobalah pergi ke daerah kumuh di kota tempat kau tinggal atau pergi sampai ke perbatasan kota. Di sini ketimpangan akan semakin terlihat, bahkan hal ini pun umum di kota-kota besar.

Diskusi Kerja keras, kesuksesan, dan privilege di ruang publik (media sosial)

Diskusi tentang privilege ini sering kali terjadi di media sosial karena seringnya orang yang memiliki privilege ini bicara tentang kerja keras itu cukup untuk membuat seseorang sukses.

Ketika orang yang datang dari keluarga berkecukupan (punya banyak privilege) bicara tentang kerja keras itu cukup, tampaknya membuat warganet lain terusik.

Sudah lumayan banyak diskusi ini sebelum dengan Jerome Poline, ada juga Jerfri Nichol yang membahas hal yang kurang lebih sama. Semuanya rata-rata berputar di tema effort also matters (berusaha juga penting).

Tentu saja pemikiran kalau bekerja keras itu cukup, ditentang oleh kawan-kawan yang menyadari kalau privilege memiliki peran besar untuk kesuksesan seseorang. Ini yang membuat diskusi selalu mengemuka di ruang publik.

Terkadang ada denial (bantahan) kalau privilege itu nyata, terkadang ada beberapa kawan yang memiliki privilege merasa hasil kerja keras mereka diremehkan, dan ada beberapa kawan juga yang merasa hal itu tidak terlalu berpengaruh.

Kenyataannya tidak begitu. Penelitian dari SMERU Institute menyebutkan hal itu dengan jelas. pun buku lain seperti Mendaki Tangga yang Salah karangan Eric Barker dan Outliers karangan Malcolm Gladwell  bicara kalau kerja keras bukan alasan utama seseorang bisa sukses.

Kawan bisa baca penelitian itu di sini.

Begitu juga dengan Ari Soejito, seorang Sosiolog dari UGM yang diwawancara oleh Kompas.com (baca artikelnya di sini) yang bilang kalau kemiskinan itu sistemik dan yang bisa memutus rantai kemiskinan adalah negara.

Jadi dari keterangan-keterangan ini bisa disimpulkan bahwa ya privilege itu sangat berpengaruh.

Namun diskusi di media sosial ini juga membuat saya melihat satu masalah yang cukup penting, yaitu apa pun yang dibahas mereka menilainya dari sudut pandang dan pengalaman pribadi.

Apa maksudnya?

Membandingkan diri dengan orang lain

Arah diskusi seputar tema privilege ini berputar di pengalaman saya vs pengalaman dia, effort saya vs dia, dan seterusnya.

Hal yang alami untuk merefleksikan informasi baru dan membandingkannya dengan pengalaman kita.

Terkadang kita lupa kalau faktanya lebih banyak yang gagal dibanding yang sukses atau hanya satu orang yang bisa jadi ranking satu, atau hanya satu orang yang bisa mendapatkan promosi di posisi manajer.

Kita lebih banyak bercerita tentang kesuksesan sedikit orang dibanding banyak kegagalan yang terjadi.

Lalu di sini kita membahas isu privilege ini dengan membandingkan diri sendiri dan orang lain.

Masalahnya akan sulit membahas sesuatu yang sistemik jika menilainya berdasarkan sudut pandang dan pengalaman pribadi saja.

Privilege ini disebut sistemik karena negara belum mampu menyediakan kesempatan yang sama bagi sebagian orang. Seperti akses kesahatan dan pendidikan. Orang miskin paling terdampak akan sulitnya akses ini.

Kenyataan yang pernah kami temukan pun seperti itu. Sewaktu Abel melakukan perjalanan ke Pulau Kramaian dalam rangka mengikuti Ekspedisi Nasional Jaya (ENJ) yang diselenggarakan Kementrian Koordinasi Maritim, dia mendapati bahwa guru itu hanya datang enam bulan sekali ke sana.

Ini keadaan yang mungkin bisa dibilang umum yang dialami di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Terbelakang). Ini hanya salah satu contoh ketimpangan yang kami temukan sewaktu bertualang ke daerah terluar Indonesia.

Permasalahan kemiskinan di perkotaan kemungkinan besar berbeda, namun tak menutup fakta bahwa di kota besar pun hal ini jadi masalah pelik.

Hal lain yang penting dibahas juga adalah, ini bukan tentang usahamu untuk sukses itu kurang dan tak berarti.

Membahas isu ini adalah tentang menyadari bahwa tidak semua orang mendapatkan hak yang sama.

Mari berhenti membandingkan diri dan orang lain. Isu privilege ini adalah mengenai ketimpangan, khususnya dalam kesempatan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Intinya bagaimana kalau kita melihat isu privilege ini lewat data dan fakta dan yang lebih penting mari ubah sudut pandang dalam melihat isu ini.

Saya punya teman satu SMP yang dia itu berturut-turut menjadi juara umum di sekolah selama tiga tahun, dari kelas satu sampai kelas tiga.

Hari ini dia menjadi buruh di salah satu pabrik di Sukabumi.

Saya tak menganggap menjadi buruh itu profesi rendah, tidak. Saya pikir kawan saya itu jika diberi kesempatan yang lebih baik mungkin hari ini dia sudah jadi salah satu peneliti unggulan di Indonesia atau memiliki prestasi lain yang sama-sama luar biasa.

Mungkin kalau dia SMP saat ini, dengan berbagai macam beasiswa saya yakin dia pasti bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Dari sini saja saya melihat ketimpangan dan privilege ini nyata.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Kompas moral dan kontribusi

Di dalam membahas dan menganalisa isu yang begitu kompleks ini dan hidup dalam budaya dimana kita menunggu untuk dipilih, maka kita memerlukan sebuah moral kompas.

Bagi saya kompas itu adalah nilai-nilai Islami. Mungkin buat kawan lain adalah nilai kepercayaan masing-masing.

Kita hidup dalam budaya dimana nilai kita dilihat dari pencapaian, sedikit sekali dilihat dari kontribusi.

Untuk itu saya mengajak marilah berhenti mengukur diri dari pencapaian karena tak semua orang mendapatkan kesempatan yang setara.

Mari mulai mengukur diri dari kontribusi yang kita berikan. Tak perlu melulu uang karena ilmu kadang lebih berharga.

Bagikan hal-hal yang menurutmu bermanfaat dan realistis bisa dilakukan orang lain. Misalnya kawan memiliki blog yang populer, bagikan tips agar orang lain bisa jadi seperti itu juga. Termasuk keahlian lain seperti fotografi, penulisan cerita, ilustrasi, video, dan lain sebagainya.

Mari berkontribusi untuk menghilangkan ketimpangan ini, mari membuat budaya dimana kita berusaha membuat hidup orang lain jadi lebih baik.

Kita selalu bisa mengubah budaya kita sendiri jadi lebih baik dan bermanfaat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap